Suherlanda

Suherlanda

Minggu, 10 Desember 2017

Sejarah Lengkap Masjid Haji Abdul Ghani Pulau Buru Kabupaten Karimun



Dari Prasasti Pasir Panjang kita pergi menuju Pulau Buru. Pulau yang menjadi perlintasan penting di Selat Durian berbicara masalah Kabupaten Karimun kita tidak bisa lepas dari berbagai sejarah disemua pulau yang ada diruang lingkup Karimun ''Masjid Raja Haji Abdul Ghani'' menjadi masjid tertua di kabupaten karimun menurut cacatan sejarah saat ini. dan kedua tertua di Provinsi Kepulauan Riau setelah Masjid Penyengat di Kota Tanjungpinang. Masjid ini dinamakan sesuai dengan nama raja yang membangunya yakni Raja Abdul Ghani Bin Raja Idris Bin Raja Haji Fisabilillah. merupakan seorang pemimpin atau Amir pertama yang membangun masjid ini pada abad ke-19 atau pada masa Kerajaan Riau-Lingga.

Tepatnya pada masa Pemerintahan Sultan Abdul Rahman sekitar Tahun 1883 -  1911. Luas Ukuran Masjid Ini sekitar 8 Meter X 15 Meter yang didominasi warna Kuning Muda hal ini menyamakan warna pada Masjid Raya Penyengat saat itu. masjid ini memiliki Kubah yang disanggah 4 Tiang yang tingginya 5 Meter.


Masjid ini mampu menampung jemaah sekitar Ratusan orang sejak direnovasi. Arsitek dari masjid ini merupakan arsitek Tionghoa yang menjadi perpaduan dari 2 unsur budaya dan ditambah dengan adanya Kelenteng disekitar masjid yang menjadi kearifan serta keharmonisan masyarakat buru yang memegang Toleransi umat beragama. dari sebelah masjid inilah unsur budaya Tionghoa terasa kental dimana menara masjid menyerupai ruang pembakaran Hio serta ruang ventilasi yang  terbuat dari batu Giok warna biru yang warnanya digunakan masyarakat Tionghoa dalam pembuatan Seni Kramik.


Teras dan atapnya yang sekarang masih dipertahankan keaslianya. Bahkan, dimasjid ini juga terdapat meriam tua serta loceng yang berasal dari bangsa Spanyol.


Keberadaan sumur yang digunakan untuk mengambil air wudhu juga tak pernah habis saat kemarau maupun masyarakat mengambilnya setiap hari untuk kebutuhan. selain itu masjid ini memiliki teknik pewarnaan yang sama pada masjid kerajaan Riau-Lingga pada umumnya yakni menggunakan Kuning Telur sebagai perekatnya.


Pintu masuk utama yang berbentuk lengkungan setinggi 2,3 meter dengan lebar 1,3 meter hingga saat ini juga masih berdiri kokoh dan berfungsi sebagamana mestinya. Pintu-pintu lainnya yang terlihat lebih pendek juga tetap masih dipertahankan karena memang tidak pernah dilakukan renovasi apapun hingga sekarang. selain itu juga Mimbar yang ada pada masjid juga memiliki kemiripan dengan kubah masjid penyengat yang juga terus dipertahankan nilai sejarahnya.

Sabtu, 02 Desember 2017

Sejarah Lengkap Prasasti Pasir Panjang Karimun Kepulauan Riau



Berada dibawah kekuasaan Sriwijaya ''Grand Carimon'',''Great Carimon''atau Karimun memiliki peranan yang penting dalam pusat perdagangan di Selat Malaka. Namun tidak seberapa penting dalam hal urusan politik di wilayah ini yang kurang berpengaruh pada masa Kerajaan Sriwijaya hingga keruntuhanya pada abad ke-13. dimana pengaruh ajaran Buddha mulai masuk disebuah pulau yang strategis di Selat Malaka yang dipenuhi kapal-kapal dagang hingga tahun 1414 sebagai tempat persinggahan. pada masa itu Kerajaan Sriwijaya telah banyak mengirimkan Sarjana untuk mempelajari ajaran Buddha di India serta Bangladesh. menurut catatan sejarah lebih dari 1000 sarjana atau para biksu mulai mendalami serta belajar ilmu ajaran buddha di India maupun Bangladesh dengan melewati Kepulauan Karimun saat itu dan pulang kembali untuk memperaktikan ilmu mereka disebuah batu yang dipahat. persinggahan mereka bukan tanpa alasan, Alasan pertama mereka singgah ingin mengambil minuman dimana perbekalan para biksu sudah habis dan alasan yang kedua mereka menerapkan ilmu tulis menulis mereka dimana mereka menemukan sebuah bukit batu yang sangat besar yang membuat mereka tertarik untuk menerapkan ilmunya untuk singgah disebuah batu Granit yang dikenal sebagai ''Prasasti Pasir Panjang'' atau ''Prasasti Tanjung Balai Karimun'' yang dikenal hingga sekarang ini.


Banyak catatan sejarah Portugis tahun 1391 yang menyebutkan bahwa Pulau Karimun telah dihuni Orang Laut. Namun kurang mendapat tempat di Singapura karna kehadiran mereka tidak diinginkan sehingga menyebar ke Bintan, Batam, dan Karimun bahkan Lingga, Natuna, Anambas, Riau Daratan serta Bangka Belitung.  Tome Pires juga pernah mengatakan bahwa orang-orang ini disebut ''The Celate'' atau orang selat atau Orang laut Semi-Nomaden yang memiliki kepala suku atau Raja. beberapa penulis bahkan menduga bahwa ''Hang Tuah'' pahlawan melayu abad ke-15 diduga masuk dalam kelompok ini Pires menyebut kelompok pulau antara Karimun dan Rangsang dengan sebutan ''Celate Island''.

Di tahun 1846 Karimun masih dikenal sebagai basis Aktivitas Perompak yang menjarah sebagian kapal Belanda maupun Inggris yang melewati pintu masuk selat malaka yang membuat Belanda serta Inggris geram dan memangkas bantuan untuk kerajaan di Penyengat atau Isolasi Ekonomi untuk pihak kerajaan atas kerugian tersebut. Raffles juga pernah ingin membangun Karimun sebagai pusat perdagangan hebat sebelum Singapura Modern namun batal.


Pemuan ini berawal dari temuan warga sekitar yang melaporkan ada sebuah batu bertulis didekat perbukitan batu di Desa Pasir Panjang yang selanjutnya dilaporkan kepada K.F Holle ditahun 1873. K.F Holle merupakan seorang berkebangsaan Belanda yang memiliki banyak perkebunan di Garut dan ia memiliki minat yang besar terhadap bahasa dan sastra di Indonesia. ia diangkat menjadi penasehat Hindia-Belanda sekaligus sebagai pejabat kolonial peneliti budaya dan terkenal dengan pekebun Teh. Namun ia bukan orang yang pertama datang ke Karimun untuk meneliti temuan ini melainkan Letnan Ashworth seorang peneliti pertama yang mengujungi Prasasti Pasir Panjang dan mengabadikannya dengan Kamera untuk dikirimkan ke Batavia dan selanjutnya diteliti oleh K.F Holle untuk mengupas apa yang menjadi isi dari Prasasti Tersebut.


Letnan Ashworth bahkan banyak mengabadikan lokasi Prasasti Pasir Panjang serta Pertambangan batu Granit di Tahun 1873 yang telah lama menambang batu-batu besar untuk nilai ekonomi dan bertahan hingga saat ini. semenjak penemuan ini lokasi penambangan dibagian batu dilindungi dari aktivitas penambang. berikut adalah beberapa foto yang diabadikan Letnan Ashworth agar diteliti dan dikirimkan untuk K.F Holle. Foto-foto itu antara lain Prasasti Pasir Panjang yang ditembok tanpa atap beberapa Lubang diatas Prasasti yang diyakini sebagai Ramalan Astronomi, Aksara Nagari pada Prasasti dan sembuah sumur dibatu besar.


Letnan Ashworth memang ditugaskan untuk datang langsung ke pulau Karimun dan meneliti serta mengabadikan bentuk prasasti tersebut. Namun saya belum bisa mencari sosok Letnan Ashworth seperti apa tetapi setelah saya melihat dengan baik maupun dengan jelas kemungkinan sosok Letnan Ashworth berada disalah satu foto yang beliau abadikan tepat diatas Batu Prasasti Pasir Panjang Sebagai Berikut. Namun sangat disayangkan fotonya kurang jelas, tetapi dari sosok Letnan itu sudah cukup jelas tergambar serta memakai topi lengkap dengan seragam militer.


Setelah beberapa foto telah sampai ke K.F Holle ia mengalami beberapa kesulitan saat menerjemah prasasti tersebut. Sehingga dilanjutkan oleh Jan Laurens Andries Brandes ia merupakan pengkolektor barang kuno dan seorang Leksikografer atau ahli penyusun bahasa langka berkebangsaan belanda. ia menjadi terkenal karna berhasil menemukan manuskrip ''Kakawin Nagarakretagama ditahun 1894 di Lombok. Foto-foto Prasasti Pasir Panjang menarik minat  Jan Laurens Andries meneliti lebih dalam. 


Ia berpendapat bahwa Prasasti itu ditulis pada abad ke X hingga XI masehi. ia juga menulis sebuah surat terima kasih kepada Sekertaris Cabang disingapura 13 Oktober 1887. dan ini Transkrips Prasasti yang Brandes terjemah yang berbunyi :


Brandes sedikit ragu dengan apa yang telah ia pelajari dan menerjemah Prasasti ini hingga ia harus menambah beberapa huruf agar memiliki makna yang cukup pada prasasti tersebut. Brandes berpendapat bahwa Gautama yang ada pada Prasasti tersebut ialah seorang biksu suci agama Buddha. Arti dari Prasasti tersebut ialah ''Jejak Kaki Gautama ( Yang Dihormati ) oleh Mahayanis dari Bengal ya sangat tepat seorang sarjana yang belajar dari Sriwijaya menuju ke Bengal dan memperoleh ilmu sehingga menjadi Biksu. yang menjadi catatan penting bahwa Strait Times Yakni koran berita Singapura pernah memberitakan pengiriman foto maupun transkirpsi Prasasti untuk Britis Museum dan saya mencarinya ternyata benar ada korannya tetapi saya menemui kesulitan saat mencari berita yang katanya berada dihalaman 2 kolom ke 6 namun itu juga sulit untuk saya temukan tetapi tetap saya abadikan sebagai bukti Autentik Sejarah dan berikut koranya : 



Tidak hanya sebuah prasasti, Brandes juga berpendapat bahwa jejak kaki yang terletak dibawah sumur batu itu ialah sebagai jejak kaki dari Gautama sang biksu. Namun J.G De Casparis menjawab teka teki tersebut bahwa jejak kaki tersebut memiliki makna serta hubungan dimana jejak kaki tersebut dibuat lebih rendah dari prasasti sebagai tanda Hormat ia juga mengatakan jejak kaki dengan tapak tunggal adalah Ikonografi yang sangat penting dalam Buddhisme seperti jejak kaki di bangladesh didekat Gunung Sumanakuta yang menjadi salah satu tempat para biksu belajar dan mendalami ilmu Buddhisme.


Namun dugaan J.G.De Casparis salah bahwa asal usul Telapak Kaki itu hanya cekukan alam yang terbentuk bahkan tidaklah sulit untuk terjadi pada batu Granit yang terdiri dari Silika dan Feldspar yang merupakan batu plutonik yang mendingin perlahan dibawah tanah. Granit bukanlah batu yang tahan cuaca ia mudah terkikis dengan mudah. saya juga membaca fakta sejarah Manusksip Brandes bahwa itu benar-benar jejak kaki namun tidak dengan yang kecil atau yang sebelah kiri yang murni terbentuk karna alam.jejak kaki ini juga menjadi sebuah kepercayaan Masyarakat setempat terutama di Karimun itu sendiri yang diakui sebagai tapak kaki Sibadang Perkasa yang kuat namun Brown di tahun 1952 membantah hubungan kisah itu Brown berpendapat bahwa kisah itu digunakan hanya untuk menarik orang-orang untuk datang.


Sementara untuk cekungan berbentuk Bola-bola ini Brandes juga berpendapat bahwa ini ada kaitanya dengan dunia Astronomi seperti terjadinya gerhana dan juga J.G.De Casparis berpendapat bahwa itu hanya sebuah cekungan yang terbentuk dari Alam.


Tak luput dari dokumentasi Letnan Ashworth juga mengabadikan sebuah sumur batu dengan mata air segar yang menarik perhatian siapa pun yang tinggal di Desa Pasir Panjang Kecamatan Meral Barat Karimun dimana sumur batu itu dianggap keramat oleh masyarakat yang digunakan untuk tujuan ritual maupun pengobatan hal ini diungkapan Letnan Ashworth berdasarkan pengamatanya langsung pada saat itu.


Dan ini beberapa perbandingn Prasasti Pasir Panjang di tahun 1887 hingga saat ini.




Prasasti Pasir Panjang dalam Buku Sejarah Singapura :